Bupati Lepas Liarkan Orangutan

283

Bupati Pulang Pisau, H. Edy Pratowo, S.Sos., M.M melepas liarkan Orangutan di Pulau Badak Kecil kawasan Pulau Salat Nusa, Desa Pilang Kecamatan Jabiren Raya, rabu (5/4).

Yayasan BOS di Nyaru Menteng, bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber  Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah kembali memindahkan 12 orangutan dari Nyaru Menteng ke Pulau Pra-pelepasliaran Salat untuk menjalani tahap akhir rehabilitasinya.

Proses rehabilitasi orangutan dapat mencapai tujuh tahun. Orangutan yang diselamatkan atau disita hasil kerja sama Yayasan BOS dengan BKSDA Kalimantan Tengah akan menjalani proses rehabilitasi secara bertahap dari Baby School dan naik ke sejumlah tingkatan di Sekolah Hutan, mirip sekolah manusia. Bagian berikut dari Sekolah Hutan sekaligus tahap akhir rehabilitasi adalah hidup di pulau pra-pelepasliaran. Pulau pra-pelepasliaran ini harus memiliki lingkungan yang menyerupai habitat hutan, memiliki sumber pakan alami yang cukup, terjaga, namun tetap terpantau perkembangan proses adaptasinya. Baru setelah orangutan dapat beradaptasi dengan baik di pulau tersebut, mereka kami nyatakan siap untuk dilepasliarkan di hutan.

Saat ini daya tampung ideal di Nyaru Menteng hanya untuk sekitar 300 individu orangutan, sementara jumlah orangutan yang masih direhabilitasi saat ini adalah sekitar 480 individu, dengan lebih dari 100 di antaranya siap memasuki tahap pra-pelepasliaran. Oleh karena itu Yayasan BOS mencanangkan target untuk bisa menempatkan setidaknya 100 orangutan keluar dari kandang-kandang di Nyaru Menteng tahun ini.

Terget tersebut membutuhkan kawasan berhutan yang cukup besar untuk menampung orangutan, dan Yayasan BOS bermitra dengan PT. Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) Tbk. Untuk mengelola lahan berhutan seluas 2.100 hektar, dengan Yayasan BOS mengusahakan 655 hektar dan ditambah lahan dari PT. SSMS Tbk, seluas 1.434 hektar. Seluruh kawasan ini dinilai memiliki daya dukung ideal dengan vegetasi yang terpelihara baik, terisolasi oleh air sungai sepanjang tahun, dan tidak teridentifikasi memiliki populasi orangutan liar, cukup luas untuk mendukung kemampuan adaptasi, sosialisasi, dan ketersediaan pakan orangutan.

Bupati Pulang Pisau dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur Alhamdulillah karena kita masih dikaruniai sejumlah wilayah yang bisa dijadikan habitat orangutan seperti di Pulau Salat ini. Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau sepenuhnya mendukung upaya konservasi orangutan yang sejak dulu telah menjadi bagian dari hidup kami, masyarakat Kalimantan Tengah. Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Pulang Pisau sangat bangga bisa berperan aktif dalam kegiatan pelestarian orangutan dan habitatnya. Kami berharap model kemitraan yang melibatkan multi stakeholder seperti ini akan bisa terus kita kembangkan.”

Upaya pemanfaatan Pulau Salat Nusa sebagai suaka bagi orangutan merupakan hasil nyata kolaborasi Yayasan BOS dengan para pemangku kepentingan, antara lain Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, masyarakat di Kecamatan Jabiren Raya yang peduli atas usaha pelestarian orangutan Indonesia. Yayasan BOS juga berterima kasih atas dukungan PT. Sawit Sumbermas Sarana Tbk., dan para mitra global seperti John Cochrane dari Australia, Constant Travis Charitable Trust, BOS Australia, BOS Jerman, BOS Swiss, dan World Animal Protection (WAP) yang telah membantu mendanai inisiatif yang sangat penting ini, tutup Edy.

CEO Yayasan BOS, Dr. Ir. Jamartin Sihite menjelaskan, “Tahun lalu kami berhasil melepasliarkan orangutan yang ke 250 sejak 2012 ke habitat aslinya di hutan. Masih banyak orangutan lain yang menanti di pulau pra-pelepasliaran kami. Sementara itu, yang mengantri di kandang pun, akibat keterbatasan ruang di pulau-pulau pra-pelepasliaran kami, tidak sedikit. Dengan adanya Pulau Salat ini, kami bisa mulai memindahkan ratusan orangutan yang telah lulus Sekolah Hutan kami di Nyaru Menteng, masuk ke tahap pra-pelepasliaran. Semakin banyak orangutan bisa kami pindahkan ke pulau pra-pelepasliaran, semakin cepat kami mempersiapkan orangutan-orangutan di pulau itu untuk dilepasliarkan di hutan. Pemanfaatan Pulau Salat ini merupakan terobosan yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan dalam pelestarian lingkungan, baik itu pemerintah, masyarakat, serta pelaku bisnis. Kami yakin upaya bersama ini bisa menunjukkan bahwa apabila kita bekerja bersama, upaya konservasi orangutan dan habitatnya tentu akan berhasil.”

Vallauthan Subraminam, Direktur Utama PT. Sawit Sumbermas Sarana Tbk., menegaskan, “Kami sangat menyadari pentingnya upaya pelestarian habitat dan ekosistem, terutama di Kalimantan Tengah ini. Karena itulah kami berkomitmen mengikuti kaidah tata kelola lingkungan yang lestari atau sustainable dan mendukung penuh upaya Yayasan BOS untuk menyediakan habitat alami orangutan sebagai area pra-pelepasliaran bagi orangutan yang siap dilepasliarkan ke hutan, dan kelak, suaka bagi orangutan yang tidak bisa dilepasliarkan ke hutan. Tidak hanya menyediakan tambahan lahan, kami juga siap memberikan dukungan nyata untuk membuktikan bahwa bisnis yang sustainable bisa berjalan seiring dengan upaya konservasi.”

Ir. Adib Gunawan, Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah mengatakan, “Untuk bisa melepasliarkan orangutan kembali ke hutan memang butuh proses panjang. Salah satunya adalah rehabilitasi tingkat lanjut di habitat yang menyerupai habitat alami mereka di hutan, namun tetap terjaga dan aman. Kami di BKSDA Kalimantan Tengah memandang kerja sama antara Yayasan BOS dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Pulang Pisau dan PT. SSMS Tbk., merupakan sebuah terobosan yang sangat brilyan, dan kami mendukung penuh hal ini. Perubahan status konservasi orangutan yang di tahun lalu menjadi “sangat terancam punah” tentu mewajibkan seluruh pemangku kepentingan untuk lebih aktif menjaga dan melindungi orangutan dan habitatnya. Kami berharap upaya-upaya yang kita lakukan bersama ini, dapat menjamin kelestarian orangutan di Kalimantan di masa-masa yang akan datang.”

BERBAGI